manifestasi
Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Pasupati. Adalah penguasa satwa dan raksasa.
Salah satu tujuan hidup kita di dunia ini adalah meningkatkan kemampuan diri
untuk menguatkan kecenderungan kedewaan atau Dewi Sampad dalam diri. Dengan
kuatnya pengaruh kecenderungan kedewaan menguasai diri, maka kecenderungan
keraksasaan atau kebinatangan akan dapat dikuasai.
Sang
hyang pasupati merupakan nama lain dari hyang guru (dewa siwa)
Kata
pasu dalam bahasa Sansekerta artinya binatang dan pati artinya raja atau
menguasai. Jadi tujuan memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati adalah untuk
mendapatkan kekuatan guna menguasai sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan
yang sering menguasai diri manusia.
Hyang
Pasupati juga merupakan sumber leluhur umat manusia (sesuai babad bali)
adalah
Pāśupatāstra merupakan senjata penguasa segala satwa. dalam kisah Mahabharata
adalah panah sakti yang oleh Dewa Siwa dianugerahkan kepada Arjuna setelah
berhasil dalam laku tapanya di Indrakila yang terjadi saat Pandawa menjalani
hukuman buang selama dua belas tahun dalam hutan. Panah yang berujung bulan
sabit ini pernah digunakan oleh Siwa saat menghancurkan Tripura, tiga kota kaum
Asura yang selalu mengancam para dewa. Dengan panah ini pula Arjuna
membinasakan Prabu Niwatakawaca. Dalam perang Bharatayuddha, Arjuna menggunakan
panah ini untuk mengalahkan musuh-musuhnya, antara lain Jayadrata dan Karna yang
dipenggalnya dengan panah ini.
Dalam
mitologi Hindu Dewa Siwa-lah yang memiliki senjata panah bernama Pasupati yang
dianugerahkan kepada Arjuna. Ditambah dengan tuntunan Sri Kresna, Arjuna pun
selalu melangkah dengan kesadaran pikiran yang tajam. Panah Pasupati itulah
salah satu yang dimiliki oleh Arjuna hasil memuja Dewa Siwa. Panah Pasupati itu
pula menyebabkan Arjuna memperoleh kemenangan dalam hidupnya.
Panah
itu simbol pikiran. Kalau pikiran ditujukan untuk memuja Tuhan maka pikiran
akan kuat atau tajam menguasai indria. Dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan
bahwa pikiran adalah rajanya Indria. Sesayut pasupati itu lambang untuk
mengingatkan manusia agar mengupayakan pikiran menjadi senjata Pasupati yaitu
kekuatan untuk menguasai gejolak indria. Kalau pikiran itu tajam maka indria
pun akan tumpul dan patuh pada arahan pikiran. Pikiran yang menjadi rajanya
indria inilah yang harus terus diperjuangkan dalam hidup ini.
Tak
hanya di daerah-daerah Jawa dusun yang masih memelihara aspek
spritualitas-irasional dengan memercayai bahwa sebuah benda memiliki kekuatan
magis tertentu, Bali juga rupanya masih digelayuti oleh aspek-aspek kepercayaan
demikian. Salah satu buktinya ialah ketika digelarnya Upacara Pasupati yang
memiliki makna permohonan berkah kepada Sanghyang Widhi Wasa supaya bisa
menghidupkan dan memberikan kekuatan magis kepada benda-benda yang
dikeramatkan.
Dalam
alam keyakinan mayoritas masyarakat Bali, setiap sesuatu yang diciptakan oleh
Tuhan Yang Maha Kuasa itu memiliki jiwa. Demikian juga dengan benda-benda yang
dibuat atau diciptakan oleh manusia. Sehingga dengan demikian, pergelaran
Upacara Pasupati dimaksudkan untuk memohon kepada Hyang Maha Menciptakan supaya
berkenan memberikan kekuatan tak tampak kepada benda-benda tersebut. Biasanya
benda-bena itu seperti keris, barong, rangda, dsb.
Dalam
tahapan implementasinya, pra-melakukan pengupacaraan kepada benda-benda itu akan
terlebih dahulu dilakukan upacara Prayascita yang bertujuan untuk menghilangkan
segala noda/ kotoran yang melekat pada saat proses pembuatan benda-benda pusaka
itu. Kemudian selepas upacara ini beres, akan dilanjutkan dengan menggelar
Niskala atau alam gaib. Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa upacara
Pasupati yang bermakna memberkahi kekuatan sinar suci Hyang Widhi (Tuhan Yanga
Maha Esa) terhadap benda-benda tersebut.
Di
Bali hari untuk memuja dewa pasupati Bertepatan dengan
Saniscara Kliwon Wuku Landep (Tumpek Landep), dimana hari itu ditujukan untuk
menyucikan benda-benda pusaka atau benda-benda yang terbuat dari besi, lebih
jauh tumpek landep memiliki arti merupakan tonggak penajaman citta, budhi dan manah(pikiran). Diharapkan, tingkah laku perbuatan umat
selalu dilandasi atas kesucian pikiran sehingga bisa memilah mana yang baik
maupun yang buruk. Sebab dari pikiran kebahagiaan itu datang dan dari pikiran
juga kesedihan menggelayut di hati. Seperti tersurat dalam Sloka 81,
Sarasamuscaya, “Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat
mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga
di akherat”.
Bos tau dari mana pasupati tu penguasa satwa dan raksasa?
BalasHapusBest eCOGRA Sportsbook Review & Welcome Bonus 2021 - CA
BalasHapusLooking 바카라 사이트 for an eCOGRA Sportsbook Bonus? At this eCOGRA ventureberg.com/ Sportsbook review, deccasino we're talking jancasino.com about a wooricasinos.info variety of ECCOGRA sportsbook promotions.