Sabtu, 16 Maret 2013

Dewa pasupati menurut tradisi bali


manifestasi Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Pasupati. Adalah penguasa satwa dan raksasa. Salah satu tujuan hidup kita di dunia ini adalah meningkatkan kemampuan diri untuk menguatkan kecenderungan kedewaan atau Dewi Sampad dalam diri. Dengan kuatnya pengaruh kecenderungan kedewaan menguasai diri, maka kecenderungan keraksasaan atau kebinatangan akan dapat dikuasai.
Sang hyang pasupati merupakan nama lain dari hyang guru (dewa siwa)
Kata pasu dalam bahasa Sansekerta artinya binatang dan pati artinya raja atau menguasai. Jadi tujuan memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati adalah untuk mendapatkan kekuatan guna menguasai sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan yang sering menguasai diri manusia.
Hyang Pasupati juga merupakan sumber leluhur umat manusia (sesuai babad bali)
adalah Pāśupatāstra merupakan senjata penguasa segala satwa. dalam kisah Mahabharata adalah panah sakti yang oleh Dewa Siwa dianugerahkan kepada Arjuna setelah berhasil dalam laku tapanya di Indrakila yang terjadi saat Pandawa menjalani hukuman buang selama dua belas tahun dalam hutan. Panah yang berujung bulan sabit ini pernah digunakan oleh Siwa saat menghancurkan Tripura, tiga kota kaum Asura yang selalu mengancam para dewa. Dengan panah ini pula Arjuna membinasakan Prabu Niwatakawaca. Dalam perang Bharatayuddha, Arjuna menggunakan panah ini untuk mengalahkan musuh-musuhnya, antara lain Jayadrata dan Karna yang dipenggalnya dengan panah ini.
Dalam mitologi Hindu Dewa Siwa-lah yang memiliki senjata panah bernama Pasupati yang dianugerahkan kepada Arjuna. Ditambah dengan tuntunan Sri Kresna, Arjuna pun selalu melangkah dengan kesadaran pikiran yang tajam. Panah Pasupati itulah salah satu yang dimiliki oleh Arjuna hasil memuja Dewa Siwa. Panah Pasupati itu pula menyebabkan Arjuna memperoleh kemenangan dalam hidupnya.
Panah itu simbol pikiran. Kalau pikiran ditujukan untuk memuja Tuhan maka pikiran akan kuat atau tajam menguasai indria. Dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan bahwa pikiran adalah rajanya Indria. Sesayut pasupati itu lambang untuk mengingatkan manusia agar mengupayakan pikiran menjadi senjata Pasupati yaitu kekuatan untuk menguasai gejolak indria. Kalau pikiran itu tajam maka indria pun akan tumpul dan patuh pada arahan pikiran. Pikiran yang menjadi rajanya indria inilah yang harus terus diperjuangkan dalam hidup ini.
Tak hanya di daerah-daerah Jawa dusun yang masih memelihara aspek spritualitas-irasional dengan memercayai bahwa sebuah benda memiliki kekuatan magis tertentu, Bali juga rupanya masih digelayuti oleh aspek-aspek kepercayaan demikian. Salah satu buktinya ialah ketika digelarnya Upacara Pasupati yang memiliki makna permohonan berkah kepada Sanghyang Widhi Wasa supaya bisa menghidupkan dan memberikan kekuatan magis kepada benda-benda yang dikeramatkan.
Dalam alam keyakinan mayoritas masyarakat Bali, setiap sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa itu memiliki jiwa. Demikian juga dengan benda-benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia. Sehingga dengan demikian, pergelaran Upacara Pasupati dimaksudkan untuk memohon kepada Hyang Maha Menciptakan supaya berkenan memberikan kekuatan tak tampak kepada benda-benda tersebut. Biasanya benda-bena itu seperti keris, barong, rangda, dsb.
Dalam tahapan implementasinya, pra-melakukan pengupacaraan kepada benda-benda itu akan terlebih dahulu dilakukan upacara Prayascita yang bertujuan untuk menghilangkan segala noda/ kotoran yang melekat pada saat proses pembuatan benda-benda pusaka itu. Kemudian selepas upacara ini beres, akan dilanjutkan dengan menggelar Niskala atau alam gaib. Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa upacara Pasupati yang bermakna memberkahi kekuatan sinar suci Hyang Widhi (Tuhan Yanga Maha Esa) terhadap benda-benda tersebut.
Di Bali hari untuk memuja dewa pasupati Bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Landep (Tumpek Landep), dimana hari itu ditujukan untuk menyucikan benda-benda pusaka atau benda-benda yang terbuat dari besi, lebih jauh tumpek landep memiliki arti merupakan tonggak penajaman citta, budhi dan manah(pikiran). Diharapkan, tingkah laku perbuatan umat selalu dilandasi atas kesucian pikiran sehingga bisa memilah mana yang baik maupun yang buruk. Sebab dari pikiran kebahagiaan itu datang dan dari pikiran juga kesedihan menggelayut di hati. Seperti tersurat dalam Sloka 81, Sarasamuscaya, “Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akherat”.

2 komentar:

  1. Bos tau dari mana pasupati tu penguasa satwa dan raksasa?

    BalasHapus
  2. Best eCOGRA Sportsbook Review & Welcome Bonus 2021 - CA
    Looking 바카라 사이트 for an eCOGRA Sportsbook Bonus? At this eCOGRA ventureberg.com/ Sportsbook review, deccasino we're talking jancasino.com about a wooricasinos.info variety of ECCOGRA sportsbook promotions.

    BalasHapus