Sembahyang atau mebakti
merupakan bagian dari Yadnya yang harus kita lakukan dalam aktifitas beragama.
Sebagai umat yang beragama kita diwajibkan untuk sembahyang. Baik smbahyang
sehari-hari seperti puja tri sandya, dan sembahyang situasional sepertihalnya
pada saat ada upacara di pura baik itu purnama, tilem ataupun galungan,
kuningan, saraswati, nyepi dan yang lainnya, tergantung pada perayaan apa saat
itu atau Yadnya apa yang dilakukan.
Dalam melakukan
persembahyangan tentunya ada aturan-aturan atau etika-etika yang harus diikuti.
Etika merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar agama hindu yakni tatwa
atau ilmu pengetahuan, etika atau susila yang merupakan perilaku kita dalam
beragama dan upacara merupkan bentuk aplikasi dari ilmu
pengetahuan yang kita muliki sebagai bentuk sradha kita kepada Sang Hyang widhy
Wasa.
Etika atau susila
merupakan kerang dasar yang kedua dalam tiga kerangka dasar agama hindu. Dalam
melakukan persembahyangan masih banyak kekeliruan yang terjadi dikalangan umat
Hindu baik yang terpelajar ataupun yang awam. Memang tidak ada patokan kusus
mengenai etika dalam persembahyangan, namun kita bisa mengacu pada yang elegan
dan yang sepatutnya.
Sebelum kita
bersembahyang kita melakukan Asuci Laksana yakni membersihkan diri dengan
mandi.
Persembahyangan dalam
agama hindu selalu diawali dengan sikap asana, sebagi wujud
sikap sempurna dan sudah siap melakukan persembahyangan dan tidak ada aktifitas
lainnya lagi yang perlu kita lakukan kecuali melanjutkn urutan-urutan
persembahyangan.
Setelah melakukan Asana,
kita melakukan Pranayama sebagai bentuk membersihkan pikiran dan diri kita dari
hal-hal buruk. Pada saat melakukan pranayama menarik nafas hendaknya kita
memikirkan memasukan aura positif yang ada disekitar kita
dan menahannya dalam tubuh dan alirkan aura positif itu keseluruh tubuh dan kunci
agar tidak bisa keluar lagi dan selanjutnya keluarkan hal-hal buruk dalam tubuh
dan diri kita.
Setelah Pranayama
lakaukan Karasodhana dengan cara membersihkan tangan kanan dan tangan kiri kita
untuk melakukan sikap amusti karana dan selanjutnya lakukan Puja Tri Sandya.
Ada hal yang sering
keliru terjadi dikalangan masyarakat kita, setelah melakukan pranayama baru
melakukan mantram terhadap dupa dan bunga. Baru malakukan Puja Tri Sandya.
Setelah melakukan Asana hendaknya tidak ada urutan mantra yang terputus, lakukanlah
puja mantra dupa dan bunga sebelum kita melakukan asana. Karena bila dilakukan
dengan adanya antara, maka mantra yang kita lakukan akan terputus.
Sikap amusti karana yang
benar adalah dengan cara mencangkupkan kedua tangan dengan ibu jari ketemu
Setelah selesai
melakukan puja tri sandya kita akan melakukan puja sembah, yang kebetulan
sering disebut panca sembah, sebenarnya sembah yang dilakukan tidak hanya ada
lima, melainkan tergantung pada jenis upacara dan dewa yang dipuja. Namun
secara umum sembah yang dilakukan ada lima. Yakni sembah kosong sebagai bentuk
kita bahwa semuanya ada berawal dari yang tidak ada, lalu malakukan sembah
kepada siwa raditya atau nama lain beliau adalah iswarya. Dewa iswarya memiliki
arah ditimur dengan warna putih/petak. Maka pada saat kita muspa ke siwa
raditya hendaknya kita menggunakan bungan yang berwarna putih. Masih banyak
kekeliruan dimasyarakat kita, melakukan sembah ke siwa raditya menggunakan
bunga merah. Merah merupakan warna dari dewa brahma yang menguasai arah
selatan.
Selanjutnya kita muspa
kepada ista dewata menggunakan bunga berwarna atau kuangen. Kenapa menggunakan
kuangen atau bunga berwarna, hal ini dikarenakan kita memuja dewa yang berstana
dipadmasana/tempat dimana kita sembahyang. Kita tidak pernah tau dewa siapa
yang berstana disana, namun kita tau bahwa ada dewa yang berstana disana. Untuk
itu kita menggunakan bunga berwarna atau kuangen.
Selanjutnya kita muspa
kepada dewa pemberi anugrah menggunakan kuangen atau bunga berwarna yang
memiliki tujuan sama dengan ista dewata.
Selanjutnya kita muspa
kosong lagi sebagai bentuk bahwa yang telah ada sekarang nantinya akan kembali
tidak ada. Ini erat hubungannya dengan proses penciptaan buana agung dan buana
alit serta pralaya. Satu siklus kehidupan akan ada jika hari itu
siangnya brahman dan kehidupan akan hilang bila terjadi malamnya brahman.
Setelah kita muspa maka
kita akan nunas tirta, dalam nunas tirta itu adalah wujud dari tirta amerta yang
mengalir dari atas kebawah, seperti halnya sungai gangga mengalir
dari sorga hingga sampai kebumi dan bermuara dilaut. Pada saat nunas tirta
hendaknya tangan kita berada lebih tinggi dari bibir kita atau setidaknya rata
asal tidak dibawah bibir kita. Karena tirta itu mengalir maka hendaknya tirta
yang dipercikan dialirkan kebibir kita bukan diangkat dari bawah.
Ada banyak manfaat bila
kita nunas tirta dengan telapak tangan lebih tinggi dari bibir kita, selain
tirta itu mengalir, pemangku atau serati tidak perlu merundu saat memercikan
tirta. Bila pemangku atau serati itu merunduk memercikan tirta maka orang yang
berada didepan kita akan kena pantat si pemercik tirta. Selain itu ada
terkadang sipemercik tirta seorang wanita maka kerah baju si wanita tidak akan
terbuka karena merunduk memercikan tirta.
Selanjutnya kita
memasang bija/wija. Bija berasal dari kata biji/benih. Maka kita harus menanam
benih yang begus-bagus. Pilihlah butir bija yang utuh untuk
kita tempelkan di dahi dan tenggorokan kita serta yang kita telan hendaknya
jangan sampai patah/jangan digigit.
Setelah nunas bija maka
kita akan meninggalkan tempat ibadah. Dalam meninggalkan tempat ibadah
hendaknya kita berdoa terlebih dahulu. Seperti halnya kita sebelum memasuki
pura kita mengucapkan salam Om swastyastu, maka saat pulang kita mencangkupkan
tangan kosong dengan mantram :
Om ksama swamam mahadewa, sarwa prani hitankara, mamoca
sarwa papabyah, palayaswa sada siwa
Om dewa suksma parama
acintya ya namah swaha.
Om santih, santih,
santih om
Setelah itu baru kita
berdiri meninggalkan pura