Sabtu, 16 Maret 2013

Etika Persembahyangan Umat Hindu


Sembahyang atau mebakti merupakan bagian dari Yadnya yang harus kita lakukan dalam aktifitas beragama. Sebagai umat yang beragama kita diwajibkan untuk sembahyang. Baik smbahyang sehari-hari seperti puja tri sandya, dan sembahyang situasional sepertihalnya pada saat ada upacara di pura baik itu purnama, tilem ataupun galungan, kuningan, saraswati, nyepi dan yang lainnya, tergantung pada perayaan apa saat itu atau Yadnya apa yang dilakukan.

Dalam melakukan persembahyangan tentunya ada aturan-aturan atau etika-etika yang harus diikuti. Etika merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar agama hindu yakni tatwa atau ilmu pengetahuan, etika atau susila yang merupakan perilaku kita dalam beragama dan upacara merupkan bentuk aplikasi dari ilmu pengetahuan yang kita muliki sebagai bentuk sradha kita kepada Sang Hyang widhy Wasa.

Etika atau susila merupakan kerang dasar yang kedua dalam tiga kerangka dasar agama hindu. Dalam melakukan persembahyangan masih banyak kekeliruan yang terjadi dikalangan umat Hindu baik yang terpelajar ataupun yang awam. Memang tidak ada patokan kusus mengenai etika dalam persembahyangan, namun kita bisa mengacu pada yang elegan dan yang sepatutnya.

Sebelum kita bersembahyang kita melakukan Asuci Laksana yakni membersihkan diri dengan mandi.

Persembahyangan dalam agama hindu selalu diawali dengan sikap asana, sebagi wujud sikap sempurna dan sudah siap melakukan persembahyangan dan tidak ada aktifitas lainnya lagi yang perlu kita lakukan kecuali melanjutkn urutan-urutan persembahyangan.

Setelah melakukan Asana, kita melakukan Pranayama sebagai bentuk membersihkan pikiran dan diri kita dari hal-hal buruk. Pada saat melakukan pranayama menarik nafas hendaknya kita memikirkan memasukan aura positif yang ada disekitar kita dan menahannya dalam tubuh dan alirkan aura positif itu keseluruh tubuh dan kunci agar tidak bisa keluar lagi dan selanjutnya keluarkan hal-hal buruk dalam tubuh dan diri kita.

Setelah Pranayama lakaukan Karasodhana dengan cara membersihkan tangan kanan dan tangan kiri kita untuk melakukan sikap amusti karana dan selanjutnya lakukan Puja Tri Sandya.

Ada hal yang sering keliru terjadi dikalangan masyarakat kita, setelah melakukan pranayama baru melakukan mantram terhadap dupa dan bunga. Baru malakukan Puja Tri Sandya. Setelah melakukan Asana hendaknya tidak ada urutan mantra yang terputus, lakukanlah puja mantra dupa dan bunga sebelum kita melakukan asana. Karena bila dilakukan dengan adanya antara, maka mantra yang kita lakukan akan terputus.
  

Sikap amusti karana yang benar adalah dengan cara mencangkupkan kedua tangan dengan ibu jari ketemu

Setelah selesai melakukan puja tri sandya kita akan melakukan puja sembah, yang kebetulan sering disebut panca sembah, sebenarnya sembah yang dilakukan tidak hanya ada lima, melainkan tergantung pada jenis upacara dan dewa yang dipuja. Namun secara umum sembah yang dilakukan ada lima. Yakni sembah kosong sebagai bentuk kita bahwa semuanya ada berawal dari yang tidak ada, lalu malakukan sembah kepada siwa raditya atau nama lain beliau adalah iswarya. Dewa iswarya memiliki arah ditimur dengan warna putih/petak. Maka pada saat kita muspa ke siwa raditya hendaknya kita menggunakan bungan yang berwarna putih. Masih banyak kekeliruan dimasyarakat kita, melakukan sembah ke siwa raditya menggunakan bunga merah. Merah merupakan warna dari dewa brahma yang menguasai arah selatan.

Selanjutnya kita muspa kepada ista dewata menggunakan bunga berwarna atau kuangen. Kenapa menggunakan kuangen atau bunga berwarna, hal ini dikarenakan kita memuja dewa yang berstana dipadmasana/tempat dimana kita sembahyang. Kita tidak pernah tau dewa siapa yang berstana disana, namun kita tau bahwa ada dewa yang berstana disana. Untuk itu kita menggunakan bunga berwarna atau kuangen.

Selanjutnya kita muspa kepada dewa pemberi anugrah menggunakan kuangen atau bunga berwarna yang memiliki tujuan sama dengan ista dewata.

Selanjutnya kita muspa kosong lagi sebagai bentuk bahwa yang telah ada sekarang nantinya akan kembali tidak ada. Ini erat hubungannya dengan proses penciptaan buana agung dan buana alit serta pralaya. Satu siklus kehidupan akan ada jika hari itu siangnya brahman dan kehidupan akan hilang bila terjadi malamnya brahman.

Setelah kita muspa maka kita akan nunas tirta, dalam nunas tirta itu adalah wujud dari tirta amerta yang mengalir dari atas kebawah, seperti halnya sungai gangga mengalir dari sorga hingga sampai kebumi dan bermuara dilaut. Pada saat nunas tirta hendaknya tangan kita berada lebih tinggi dari bibir kita atau setidaknya rata asal tidak dibawah bibir kita. Karena tirta itu mengalir maka hendaknya tirta yang dipercikan dialirkan kebibir kita bukan diangkat dari bawah.

Ada banyak manfaat bila kita nunas tirta dengan telapak tangan lebih tinggi dari bibir kita, selain tirta itu mengalir, pemangku atau serati tidak perlu merundu saat memercikan tirta. Bila pemangku atau serati itu merunduk memercikan tirta maka orang yang berada didepan kita akan kena pantat si pemercik tirta. Selain itu ada terkadang sipemercik tirta seorang wanita maka kerah baju si wanita tidak akan terbuka karena merunduk memercikan tirta.

Selanjutnya kita memasang bija/wija. Bija berasal dari kata biji/benih. Maka kita harus menanam benih yang begus-bagus. Pilihlah butir bija yang utuh untuk kita tempelkan di dahi dan tenggorokan kita serta yang kita telan hendaknya jangan sampai patah/jangan digigit.



Setelah nunas bija maka kita akan meninggalkan tempat ibadah. Dalam meninggalkan tempat ibadah hendaknya kita berdoa terlebih dahulu. Seperti halnya kita sebelum memasuki pura kita mengucapkan salam Om swastyastu, maka saat pulang kita mencangkupkan tangan kosong dengan mantram :
Om ksama swamam mahadewa, sarwa prani hitankara, mamoca sarwa papabyah, palayaswa sada siwa
Om dewa suksma parama acintya ya namah swaha.
Om santih, santih, santih om

Setelah itu baru kita berdiri meninggalkan pura


Dewa pasupati menurut tradisi bali


manifestasi Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Pasupati. Adalah penguasa satwa dan raksasa. Salah satu tujuan hidup kita di dunia ini adalah meningkatkan kemampuan diri untuk menguatkan kecenderungan kedewaan atau Dewi Sampad dalam diri. Dengan kuatnya pengaruh kecenderungan kedewaan menguasai diri, maka kecenderungan keraksasaan atau kebinatangan akan dapat dikuasai.
Sang hyang pasupati merupakan nama lain dari hyang guru (dewa siwa)
Kata pasu dalam bahasa Sansekerta artinya binatang dan pati artinya raja atau menguasai. Jadi tujuan memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati adalah untuk mendapatkan kekuatan guna menguasai sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan yang sering menguasai diri manusia.
Hyang Pasupati juga merupakan sumber leluhur umat manusia (sesuai babad bali)
adalah Pāśupatāstra merupakan senjata penguasa segala satwa. dalam kisah Mahabharata adalah panah sakti yang oleh Dewa Siwa dianugerahkan kepada Arjuna setelah berhasil dalam laku tapanya di Indrakila yang terjadi saat Pandawa menjalani hukuman buang selama dua belas tahun dalam hutan. Panah yang berujung bulan sabit ini pernah digunakan oleh Siwa saat menghancurkan Tripura, tiga kota kaum Asura yang selalu mengancam para dewa. Dengan panah ini pula Arjuna membinasakan Prabu Niwatakawaca. Dalam perang Bharatayuddha, Arjuna menggunakan panah ini untuk mengalahkan musuh-musuhnya, antara lain Jayadrata dan Karna yang dipenggalnya dengan panah ini.
Dalam mitologi Hindu Dewa Siwa-lah yang memiliki senjata panah bernama Pasupati yang dianugerahkan kepada Arjuna. Ditambah dengan tuntunan Sri Kresna, Arjuna pun selalu melangkah dengan kesadaran pikiran yang tajam. Panah Pasupati itulah salah satu yang dimiliki oleh Arjuna hasil memuja Dewa Siwa. Panah Pasupati itu pula menyebabkan Arjuna memperoleh kemenangan dalam hidupnya.
Panah itu simbol pikiran. Kalau pikiran ditujukan untuk memuja Tuhan maka pikiran akan kuat atau tajam menguasai indria. Dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan bahwa pikiran adalah rajanya Indria. Sesayut pasupati itu lambang untuk mengingatkan manusia agar mengupayakan pikiran menjadi senjata Pasupati yaitu kekuatan untuk menguasai gejolak indria. Kalau pikiran itu tajam maka indria pun akan tumpul dan patuh pada arahan pikiran. Pikiran yang menjadi rajanya indria inilah yang harus terus diperjuangkan dalam hidup ini.
Tak hanya di daerah-daerah Jawa dusun yang masih memelihara aspek spritualitas-irasional dengan memercayai bahwa sebuah benda memiliki kekuatan magis tertentu, Bali juga rupanya masih digelayuti oleh aspek-aspek kepercayaan demikian. Salah satu buktinya ialah ketika digelarnya Upacara Pasupati yang memiliki makna permohonan berkah kepada Sanghyang Widhi Wasa supaya bisa menghidupkan dan memberikan kekuatan magis kepada benda-benda yang dikeramatkan.
Dalam alam keyakinan mayoritas masyarakat Bali, setiap sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa itu memiliki jiwa. Demikian juga dengan benda-benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia. Sehingga dengan demikian, pergelaran Upacara Pasupati dimaksudkan untuk memohon kepada Hyang Maha Menciptakan supaya berkenan memberikan kekuatan tak tampak kepada benda-benda tersebut. Biasanya benda-bena itu seperti keris, barong, rangda, dsb.
Dalam tahapan implementasinya, pra-melakukan pengupacaraan kepada benda-benda itu akan terlebih dahulu dilakukan upacara Prayascita yang bertujuan untuk menghilangkan segala noda/ kotoran yang melekat pada saat proses pembuatan benda-benda pusaka itu. Kemudian selepas upacara ini beres, akan dilanjutkan dengan menggelar Niskala atau alam gaib. Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa upacara Pasupati yang bermakna memberkahi kekuatan sinar suci Hyang Widhi (Tuhan Yanga Maha Esa) terhadap benda-benda tersebut.
Di Bali hari untuk memuja dewa pasupati Bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Landep (Tumpek Landep), dimana hari itu ditujukan untuk menyucikan benda-benda pusaka atau benda-benda yang terbuat dari besi, lebih jauh tumpek landep memiliki arti merupakan tonggak penajaman citta, budhi dan manah(pikiran). Diharapkan, tingkah laku perbuatan umat selalu dilandasi atas kesucian pikiran sehingga bisa memilah mana yang baik maupun yang buruk. Sebab dari pikiran kebahagiaan itu datang dan dari pikiran juga kesedihan menggelayut di hati. Seperti tersurat dalam Sloka 81, Sarasamuscaya, “Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akherat”.